Paradigma Kurikulum Baru dan Penguatan Literasi

Judul : Paradigma Kurikulum Baru dan Penguatan Literasi
Resume ke : 1
Tanggal : Sabtu, 29 Januari 2022
Tema : Pendidikan
Narasumber : Kurniati, M.Pd.

Menurut narasumber, secara garis besar bentuk perbedaan kurikulum tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Hanya saja, kembali ke tujuan dan fungsi yang tertuang dan tertulis secara nyata. Misalnya seperti PAUD, sistemnya yaitu kegiatan bermain digunakan sebagai proses belajar yang utama.

Kemudian, penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain-belajar berbasis buku anak. Dengan cara ini, maka siswa akan merasa tidak tertekan. Proyek literasi melalui bacaan untuk memperkuat profil belajar juga disesuaikan dengan usia, kontekstual dengan si siswa yang membutuhkan literasi.

Setelahnya pada jenjang SD, penguatan kompetensi dan pemahaman yang mendasar dipahami melalui lingkungan sekitar. Perubahan mendatang adalah mata pelajaran IPA dan IPS akan digabung, sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Ada pula integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPAS, dan Bahasa Inggris dipilih sebagai mata pelajaran pilihan.

Pada jenjang SMP, penyelenggaraan akan disesuaikan dengan teknologi digital dan pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib (lagi) setelah yang lalu ditiadakan dengan nama Informatika.

Pada jenjang SMA dan sederajat, juga mengalami perubahan pada mata pelajaran peminatan. Nanti pada kelas 11 dan 12 siswa akan mengikuti mata pelajaran dari kelompok wajib, dan bebas memilih mata pelajaran MIPA, IPS, Bahasa, dan keterampilan vokasi sebagai minat dan bakat. Hal ini juga menuntut siswa jenjang SMA untuk melakukan analisis diri dengan membuat karya tulisan ilmiah supaya memenuhi syarat kelulusan. Jadi, perbedaannya hanya pada penguatan dan penekanan.

Kemudian untuk SMK, dunia kerja terlibat dalam pembelajaran. Lalu, struktur pembelajarannya lebih sederhana karena mencakup dua hal, yaitu mata pelajaran umum dan kejuruan (produktif). Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60 persen ke 70 persen.

Artinya, siswa-siswi SMK hanya mempelajari teori sebanyak 30 persen. Mereka akan melakukan praktik kerja lapangan selama 6 bulan dan kegiatan literasi yang harus dilakukan sebagai syarat kelulusan adalah esai ilmiah.

Untuk pelar SLB, juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk menguatkan pelar Pancasila dengan mengutamakan tema yang sama dengan sekolah reguler, dengan kebutuhan materi sesuai karakteristik pelajar SLB.

Jadi, perbedaan kurikulum terdahulu dengan sekarang adalah metode pelaksanaannya, serta pencapaian keterampilan berbahasa. Perlu sesuatu yang menarik supaya siswa juga bisa mengikuti dengan baik dan termotivasi untuk terampil dan pandai.

Adapun hiasan untuk memotivasinya antara lain, seperti konten akademik, multigaya belajar, keterampilan berpikir, dan multikompetisi serta tujuan akhir.

Dari perubahan-perubahan yang terjadi, siswa akan dilatih untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum baru yang disebut kurikulum prototipe. Tidak perlu cemas, karena hanya berbeda tipis dengan kurikulum lama.

Mari kita kembangkan pembelajaran merdeka belajar yang berpihak kepada pelajar. Jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru, dan semangat untuk menuju literasi yang kuat!

Komentar